Pagi
ini cuaca cerah, terik matahari menyengat seperti biasa. Tapi berhubung ini
desa yang letaknya masih cukup jauh dengan pusat kota, hawa sejuk pepohonan
masih bisa dirasakan. Udara juga tergolong bersih dan segar. Tio melakukan
aktivitas seperti biasa, bekerja mencari nafkah untuk dirinya dan mengisi
pundi-pundi tabungannya. Tidak seperti pria muda kebanyakan, Tio tidak bekerja
di kantor. Alih-alih meletakkan surat lamaran di perusahaan, dia malah menjadi
peternak. Sebenarnya dia hanyalah penggembala kambing, masih sama seperti saat
dia masih anak-anak dulu, meskipun kini usianya sudah menginjak 27 tahun. Dan
kini kambing-kambing itu tengah berdesakan menunggu giliran untuk di buka pintu
kandangnya. Kemudian setelah Tio berhasil membuka gemboknya, kambing-kambing
itu berlarian menuju padang rumput dan merumput dengan bebas di sana.
“Mas
Tio!” suara panggilan itu terdengar begitu akrab di telinga Tio. Dia sudah
mendengarnya setidaknya selama belasan tahun belakangan, meskipun hanya
sesekali waktu dalam sebulan ia dapat berjumpa dengannya.
“Lho
mbak Rahma” Tio menoleh ke belakang dan melihat kedatangan sesosok perempuan
yang memanggilnya itu dengan antusias.
Perempuan
itu masih muda, baru lulus kuliah beberapa bulan yang lalu. Meskipun usianya di
bawah Tio namun bagaimanapun juga Rahma adalah bosnya. Ya, perempuan itulah
yang memberikannya pekerjaan. Kambing-kambing ini adalah miliknya, yang di
percayakan kepada Tio untuk digembalakan. Dengan sistem bagi hasil, Tio
berhasil mengembangkan bisnis ini dengan luar biasa cepatnya. Uang di
tabungannya pun tidak boleh dianggap remeh, bisa untuk membeli mobil atau rumah
sederhana. Meski begitu ia tetap Tio yang dulu, lelaki sederhana khas
penggembala desa dengan pakaian yang itu-itu saja. Dalam hati ia masih mengagumi
Rahma, gadis kecil yang waktu itu datang menemuinya sambil menuntun seekor
kambing betina.
“Mas yang biasa gembalain kambing
di lapangan itu kan?”
“Iya, kenapa dek?”
“Bisa minta tolong nggak, jagain
kambingku. Rahma mau pulang ke Surabaya. Nanti kalau kambingnya punya anak
telpon aku ya. Ini nomer rumahku”
Ingatan
Tio kembali ke masa lalu, dimana pertemuan pertamanya dengan Rahma 12 tahun
yang lalu. Masih jelas dalam ingatannya bagaimana gadis lugu tapi cerdas itu
tidak segan-segan mempercayakan kambingnya padanya. Dia bercerita bahwa kambing
itu dibelinya dengan uang saku hari raya yang di dapat saat berkunjung ke rumah
neneknya. Nenek Rahma adalah tetangga Tio, seorang wanita tua yang ramah dan
suka membantu keluarganya. Tio yang saat itu masih berstatus sebagai bocah
miskin tanpa ayah, tentu menyetujui permintaan Rahma dengan senang hati, sambil
membayangkan keuntungan yang di dapat dari pekerjaannya menggembala kambing.
“Nanti kalau punya anak 2 kita
bagi. Satu buat aku, satu buat mas Tio. Kalau anaknya cuma satu kita jual trus
uangnya kita bagi. Kambingnya di kandangin malam hari aja, kalo siang biarin
nyari rumput sendiri. Biar mas Tio nggak repot. Wah nggak sabar lihat kambingku
jadi banyak” ujar Rahma berapi-api. Inilah salah
satu mengapa Tio sangat mengagumi gadis ini. Di saat anak-anak lain
menghabiskan uang lebaran mereka dengan membeli mainan dan pakaian baru, Rahma
malah menukarnya dengan seekor kambing betina. Tentu itu bukan hal yang biasa
untuk anak umur 10 tahun yang bisa terpikir untuk menanam investasi dengan cara
membeli kambing, dengan harapan kambingnya akan beranak pinak.
Dan
ambisi itu seiring berjalannya waktu benar-benar menjadi kenyataan. Tanpa perlu
membeli pejantan, kambing betina itu hamil dengan salah satu kambing lain yang
biasa digembalakan di tempat yang sama. Anak pertama mereka 2 ekor, semuanya betina. Sesuai
dengan instruksi Rahma, maka yang seekor adalah milik Tio. Tentu saja Tio
sangat senang memiliki anak kambing sendiri. Bukan kambing milik orang lain
yang biasa ia gembalakan. Rahma juga menginstruksikan padanya untuk hanya
menjual kambingnya yang jantan. Dan jadilah kambing-kambing itu berlipat ganda.
Dua, sepuluh, lima puluh, ratusan dan terus berkembang, meskipun kambing-kambing
itu juga di perjual belikan. Namun seperti laju air yang tak dapat di bendung,
kambing-kambing itu terus bertambah banyak. Memberi harapan bagi Tio untuk
menatap masa depannya. Uang yang di dapatkan dari hasil penjualan kambing
miliknya digunakan untuk meneruskan sekolahnya yang sempat putus di tengah
jalan. Dan yang lebih mengagumkan lagi, bukan hanya Tio yang terbantu dengan
bisnis ternak kambing ini. Rahma merekrut beberapa orang lagi untuk merawat
kambingnya yang semakin banyak, bahkan sengaja membeli lahan kosong untuk di
jadikan tempat penggembalaan. Itu semua dilakukannya saat usianya baru menginjak
20 tahun. Bayangkan, di usia semuda itu dia telah memiliki ratusan juta rupiah
di rekeningnya, yang semula hanya berawal dari seekor kambing, tanpa sedikitpun
merepotkan kedua orang taunya. Hanya bermodalkan kejujuran dan ketegasannya
dalam mengambil keputusan. Rahma bahkan hanya sempat menengok sebulan sekali
untuk memastikan ternaknya baik-baik saja. Biasanya ia datang bersama kakak
lekakinya yang 8 tahun lebih tua. Namun saat ini ia tidak datang bersama
kakaknya, melainkan seorang pria berwajah khas Asia timur. Tubuhnya tinggi,
tidak terlalu besar tapi tidak kurus juga. Pria itu menggandeng tangannya dan
datang mendekati Tio yang sedang sibuk memulai harinya di kandang kambing.
“Mas
Tio, kenalin ini suamiku”
Tio
menyalami pria itu, dan pria itupun tersenyum. Senyumnya tulus dan ramah,
pikirnya. Pria ini, yang telah menyadarkan Tio pada kenyataan. Bahwa selamanya
ia hanya bisa mengagumi Rahma sebagai atasannya, orang yang banyak membantunya.
Bukan wanita yang ia cintai, meskipun tak dapat di sangkal bahwa Rahma adalah
cinta pertamanya.
“Oo,
jadi ini tho oleh-oleh dari Jepang. Kok tumben ikut ke sini mbak? Pasti mau
nengokin mbah ya” Tio bertanya pada Rahma sambil menatap pria tersebut khawatir.
Kalau-kalau lantai kandang ini mengotori sepatu kets yang di pakainya, atau
rumput pakan kambing itu menempel di celana jeans atau kaos polonya yang
terlihat bersih dan rapi.
“Iya,
kangen sama mbah. Sekalian mau keliling tetangga buat pamer ini nih” Rahma
melingkarkan tangannya pada lengan pria yang berdiri di sampingnya, sambil
tertawa kecil.
Hal
ini membuat Tio sedikit cemburu melihat Rahma menggandeng suaminya dengan mesra.
Tapi ah, siapa Tio. Dia bukan siapa-siapa, dia hanya orang kepercayaannya untuk
mengurus ternak, pikirnya dalam hati.
“Dia
juga belum pernah liat kambing-kambing ku, jadi ku ajak ke sini. Biar tau kalo
istrinya suka main sama kambing”
“Wah
mbak Rahma ini bisa aja. Tapi biar main sama kambing kan mbak tetep cantik dan
wangi” Tio memuji Rahma tulus tanpa bermaksud menggodanya. Rahma memang sosok
wanita yang cantik, bukan hanya menurutnya, tapi sebagian besar laki-laki
normal yang sudah dewasa pasti akan setuju kalau Rahma memiliki wajah menarik seperti
bintang Bollywood. Dengan kulit coklat sawo matang, alis tebal, hidung mancung,
mata lebar dan lesung pipit di pipinya lelaki manapun pasti akan menoleh dua
kali saat berpapasan dengannya.
Tanpa
di sangka suami Rahma ikut tersenyum mendengar pujian Tio sampai matanya
menyipit. Tio sadar bahwa pria ini mungkin bisa berbahasa Indonesia, jadi dia
tidak boleh berkata sembarangan. Takut-takut kalau dia cemburu.
“Sayang
mau pilih yang mana?” Tanya Rahma
“Hmmm
yang mana ya” Genzo Takahashi, suami Rahma menatap kawanan kambing yang baru saja
di lepas Tio ke padang rumput dengan bingung “Kamu saja yang pilihkan, aku
nggak pernah berteman sama kambing jadi aku nggak tahu mana yang enak buat di
makan”
Dugaan
Tio benar, pria ini bisa berbahasa Indonesia, dan lancar.
“Makanya
sekali-kali bantu kakek Takahashi di sawah” sahut Rahma ketus
“Tapi
kakek nggak pelihara kambing”
“Makanya
suruh pelihara”
“Kenapa
nggak kamu saja yang bilang sayang. Kan kamu cucu kesayangannya” Genzo
tersenyum sambil menjetikkan jarinya ke dagu Rahma, membuatnya mendongak
sekilas.
Rahma
mendengus. Pura-pura kesal pada suaminya yang menggodanya, pandangannya kini
beralih ke Tio.
“Mas
Tio, bisa minta tolong pilihkan satu kambing jantan yang sehat dan siap
disembelih?”
“Sekarang?
Buat apa mbak?” tanya Tio
“Ini
ada Rikugun yang ngidam pengen makan sate kambing” kata Rahma sambil menyikut lengan suaminya.
“Hei,
aku kan bukan tentara kaisar. Itu almarhum kakek. Enak saja”
“Kakek
mu menjajah negeriku. Tapi cucunya menjajah hatiku.” Rahma tersenyum geli saat
berlari meninggalkan suaminya yang masih tertegun. Tak lama kemudian suaminya
ikut berlari mengejarnya sambil tertawa.
“Jangan
lupa ya mas Tio, nanti kalau sudah sampean bawa ke warungnya mbak Santi buat di
masak. Makasih yaaa” Rahma berteriak dari kejauhan, berlalu sambil melambaikan
tangannya. Dan Tio hanya bisa tersenyum dan membalas lambaian tangan itu.
Aku akan menuruti keinginanmu dengan senang hati
Rahma, meskipun itu untuk menyenangkan suamimu. Perintahmu adalah tugasku, pria
yang selamanya akan menjadi bawahanmu, Gumam Tio dalam hati, miris. Dan kini ia
akan menjalankan tugas yang di berikan padanya, mencari kambing jantan yang
sehat dan membawanya ke tukang potong hewan.
0 komentar:
Posting Komentar