Selasa, 14 Januari 2014

Chapter 1

Diposting oleh My diary di 21.57
Pagi ini cuaca cerah, terik matahari menyengat seperti biasa. Tapi berhubung ini desa yang letaknya masih cukup jauh dengan pusat kota, hawa sejuk pepohonan masih bisa dirasakan. Udara juga tergolong bersih dan segar. Tio melakukan aktivitas seperti biasa, bekerja mencari nafkah untuk dirinya dan mengisi pundi-pundi tabungannya. Tidak seperti pria muda kebanyakan, Tio tidak bekerja di kantor. Alih-alih meletakkan surat lamaran di perusahaan, dia malah menjadi peternak. Sebenarnya dia hanyalah penggembala kambing, masih sama seperti saat dia masih anak-anak dulu, meskipun kini usianya sudah menginjak 27 tahun. Dan kini kambing-kambing itu tengah berdesakan menunggu giliran untuk di buka pintu kandangnya. Kemudian setelah Tio berhasil membuka gemboknya, kambing-kambing itu berlarian menuju padang rumput dan merumput dengan bebas di sana.
“Mas Tio!” suara panggilan itu terdengar begitu akrab di telinga Tio. Dia sudah mendengarnya setidaknya selama belasan tahun belakangan, meskipun hanya sesekali waktu dalam sebulan ia dapat berjumpa dengannya.
“Lho mbak Rahma” Tio menoleh ke belakang dan melihat kedatangan sesosok perempuan yang memanggilnya itu dengan antusias.
Perempuan itu masih muda, baru lulus kuliah beberapa bulan yang lalu. Meskipun usianya di bawah Tio namun bagaimanapun juga Rahma adalah bosnya. Ya, perempuan itulah yang memberikannya pekerjaan. Kambing-kambing ini adalah miliknya, yang di percayakan kepada Tio untuk digembalakan. Dengan sistem bagi hasil, Tio berhasil mengembangkan bisnis ini dengan luar biasa cepatnya. Uang di tabungannya pun tidak boleh dianggap remeh, bisa untuk membeli mobil atau rumah sederhana. Meski begitu ia tetap Tio yang dulu, lelaki sederhana khas penggembala desa dengan pakaian yang itu-itu saja. Dalam hati ia masih mengagumi Rahma, gadis kecil yang waktu itu datang menemuinya sambil menuntun seekor kambing betina.
“Mas yang biasa gembalain kambing di lapangan itu kan?”
“Iya, kenapa dek?”
“Bisa minta tolong nggak, jagain kambingku. Rahma mau pulang ke Surabaya. Nanti kalau kambingnya punya anak telpon aku ya. Ini nomer rumahku”
Ingatan Tio kembali ke masa lalu, dimana pertemuan pertamanya dengan Rahma 12 tahun yang lalu. Masih jelas dalam ingatannya bagaimana gadis lugu tapi cerdas itu tidak segan-segan mempercayakan kambingnya padanya. Dia bercerita bahwa kambing itu dibelinya dengan uang saku hari raya yang di dapat saat berkunjung ke rumah neneknya. Nenek Rahma adalah tetangga Tio, seorang wanita tua yang ramah dan suka membantu keluarganya. Tio yang saat itu masih berstatus sebagai bocah miskin tanpa ayah, tentu menyetujui permintaan Rahma dengan senang hati, sambil membayangkan keuntungan yang di dapat dari pekerjaannya menggembala kambing.
“Nanti kalau punya anak 2 kita bagi. Satu buat aku, satu buat mas Tio. Kalau anaknya cuma satu kita jual trus uangnya kita bagi. Kambingnya di kandangin malam hari aja, kalo siang biarin nyari rumput sendiri. Biar mas Tio nggak repot. Wah nggak sabar lihat kambingku jadi banyak” ujar Rahma berapi-api. Inilah salah satu mengapa Tio sangat mengagumi gadis ini. Di saat anak-anak lain menghabiskan uang lebaran mereka dengan membeli mainan dan pakaian baru, Rahma malah menukarnya dengan seekor kambing betina. Tentu itu bukan hal yang biasa untuk anak umur 10 tahun yang bisa terpikir untuk menanam investasi dengan cara membeli kambing, dengan harapan kambingnya akan beranak pinak.
Dan ambisi itu seiring berjalannya waktu benar-benar menjadi kenyataan. Tanpa perlu membeli pejantan, kambing betina itu hamil dengan salah satu kambing lain yang biasa digembalakan di tempat yang sama. Anak  pertama mereka 2 ekor, semuanya betina. Sesuai dengan instruksi Rahma, maka yang seekor adalah milik Tio. Tentu saja Tio sangat senang memiliki anak kambing sendiri. Bukan kambing milik orang lain yang biasa ia gembalakan. Rahma juga menginstruksikan padanya untuk hanya menjual kambingnya yang jantan. Dan jadilah kambing-kambing itu berlipat ganda. Dua, sepuluh, lima puluh, ratusan dan terus berkembang, meskipun kambing-kambing itu juga di perjual belikan. Namun seperti laju air yang tak dapat di bendung, kambing-kambing itu terus bertambah banyak. Memberi harapan bagi Tio untuk menatap masa depannya. Uang yang di dapatkan dari hasil penjualan kambing miliknya digunakan untuk meneruskan sekolahnya yang sempat putus di tengah jalan. Dan yang lebih mengagumkan lagi, bukan hanya Tio yang terbantu dengan bisnis ternak kambing ini. Rahma merekrut beberapa orang lagi untuk merawat kambingnya yang semakin banyak, bahkan sengaja membeli lahan kosong untuk di jadikan tempat penggembalaan. Itu semua dilakukannya saat usianya baru menginjak 20 tahun. Bayangkan, di usia semuda itu dia telah memiliki ratusan juta rupiah di rekeningnya, yang semula hanya berawal dari seekor kambing, tanpa sedikitpun merepotkan kedua orang taunya. Hanya bermodalkan kejujuran dan ketegasannya dalam mengambil keputusan. Rahma bahkan hanya sempat menengok sebulan sekali untuk memastikan ternaknya baik-baik saja. Biasanya ia datang bersama kakak lekakinya yang 8 tahun lebih tua. Namun saat ini ia tidak datang bersama kakaknya, melainkan seorang pria berwajah khas Asia timur. Tubuhnya tinggi, tidak terlalu besar tapi tidak kurus juga. Pria itu menggandeng tangannya dan datang mendekati Tio yang sedang sibuk memulai harinya di kandang kambing.
“Mas Tio, kenalin ini suamiku”
Tio menyalami pria itu, dan pria itupun tersenyum. Senyumnya tulus dan ramah, pikirnya. Pria ini, yang telah menyadarkan Tio pada kenyataan. Bahwa selamanya ia hanya bisa mengagumi Rahma sebagai atasannya, orang yang banyak membantunya. Bukan wanita yang ia cintai, meskipun tak dapat di sangkal bahwa Rahma adalah cinta pertamanya.
“Oo, jadi ini tho oleh-oleh dari Jepang. Kok tumben ikut ke sini mbak? Pasti mau nengokin mbah ya” Tio bertanya pada Rahma sambil menatap pria tersebut khawatir. Kalau-kalau lantai kandang ini mengotori sepatu kets yang di pakainya, atau rumput pakan kambing itu menempel di celana jeans atau kaos polonya yang terlihat bersih dan rapi.
“Iya, kangen sama mbah. Sekalian mau keliling tetangga buat pamer ini nih” Rahma melingkarkan tangannya pada lengan pria yang berdiri di sampingnya, sambil tertawa kecil.
Hal ini membuat Tio sedikit cemburu melihat Rahma menggandeng suaminya dengan mesra. Tapi ah, siapa Tio. Dia bukan siapa-siapa, dia hanya orang kepercayaannya untuk mengurus ternak, pikirnya dalam hati.
“Dia juga belum pernah liat kambing-kambing ku, jadi ku ajak ke sini. Biar tau kalo istrinya suka main sama kambing”
“Wah mbak Rahma ini bisa aja. Tapi biar main sama kambing kan mbak tetep cantik dan wangi” Tio memuji Rahma tulus tanpa bermaksud menggodanya. Rahma memang sosok wanita yang cantik, bukan hanya menurutnya, tapi sebagian besar laki-laki normal yang sudah dewasa pasti akan setuju kalau Rahma memiliki wajah menarik seperti bintang Bollywood. Dengan kulit coklat sawo matang, alis tebal, hidung mancung, mata lebar dan lesung pipit di pipinya lelaki manapun pasti akan menoleh dua kali saat berpapasan dengannya.
Tanpa di sangka suami Rahma ikut tersenyum mendengar pujian Tio sampai matanya menyipit. Tio sadar bahwa pria ini mungkin bisa berbahasa Indonesia, jadi dia tidak boleh berkata sembarangan. Takut-takut kalau dia cemburu.   
“Sayang mau pilih yang mana?” Tanya Rahma
“Hmmm yang mana ya” Genzo Takahashi, suami Rahma menatap kawanan kambing yang baru saja di lepas Tio ke padang rumput dengan bingung “Kamu saja yang pilihkan, aku nggak pernah berteman sama kambing jadi aku nggak tahu mana yang enak buat di makan”
Dugaan Tio benar, pria ini bisa berbahasa Indonesia, dan lancar.
“Makanya sekali-kali bantu kakek Takahashi di sawah” sahut Rahma ketus
“Tapi kakek nggak pelihara kambing”
“Makanya suruh pelihara”
“Kenapa nggak kamu saja yang bilang sayang. Kan kamu cucu kesayangannya” Genzo tersenyum sambil menjetikkan jarinya ke dagu Rahma, membuatnya mendongak sekilas.
Rahma mendengus. Pura-pura kesal pada suaminya yang menggodanya, pandangannya kini beralih ke Tio.
“Mas Tio, bisa minta tolong pilihkan satu kambing jantan yang sehat dan siap disembelih?”
“Sekarang? Buat apa mbak?” tanya Tio
“Ini ada Rikugun yang ngidam pengen makan sate kambing” kata Rahma sambil menyikut lengan suaminya.
“Hei, aku kan bukan tentara kaisar. Itu almarhum kakek. Enak saja”
“Kakek mu menjajah negeriku. Tapi cucunya menjajah hatiku.” Rahma tersenyum geli saat berlari meninggalkan suaminya yang masih tertegun. Tak lama kemudian suaminya ikut berlari mengejarnya sambil tertawa.
“Jangan lupa ya mas Tio, nanti kalau sudah sampean bawa ke warungnya mbak Santi buat di masak. Makasih yaaa” Rahma berteriak dari kejauhan, berlalu sambil melambaikan tangannya. Dan Tio hanya bisa tersenyum dan membalas lambaian tangan itu.
Aku akan menuruti keinginanmu dengan senang hati Rahma, meskipun itu untuk menyenangkan suamimu. Perintahmu adalah tugasku, pria yang selamanya akan menjadi bawahanmu, Gumam Tio dalam hati, miris. Dan kini ia akan menjalankan tugas yang di berikan padanya, mencari kambing jantan yang sehat dan membawanya ke tukang potong hewan.

0 komentar:

Posting Komentar

 

♥ Baineth's diary Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea